SYIRKAH DAN JIALAH

BAB IV

SYIRKAH DAN JI’ALAH

Mata Pelajaran : FIQIH

Kelas / Semester : X / GENAP

Standar Kompetensi : 18.    Memahami konsep perekonomian dalam Islam dan hikmahnya

Kompetensi Dasar : 18.1. Menjelaskan aturan Islam tentang Ji’alah dalam Islam

18.2. Menerapkan cara jual beli, khiyar, musaqah, muzara’ah, mukhabarah, syirkah

dan ji’alah

RINGKASAN MATERI

A. SYIRKAH

1. Pengertian dan Macam Syirkah

Menurut bahasa syirkah artinya : persekutuan, kerjasama atau bersama-sama. Menurut istilah syirkah adalah suatu akad dalam bentuk kerjasama antara dua orang atau lebih dalam bidang modal atau jasa, untuk mendapatkan keuntungan.

Syirkah atau kerjasama ini sangat baik kita lakukan karena sangat banyak manfaatnya, terutama dalam meningkatkan kesejahteraan bersama. Kerjasama itu ada yang sifatnya antar pribadi, antar group bahkan antar Negara.

Dalam kehidupan masyarakat, senantiasa terjadi kerjasama, didorong oleh keinginan untuk saling tolong menolong dalam hal kebaikan dan  keuntungan bersama.

Firman Allah SWT. :

وَتَعَاوَنُوْاعَلَى الْبِرِّوَالتَّقْوىوَلَاتَعَاوَنُوْعَلَىاْلاِثْمِ وَاْلعُدْوَانِ …

“Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan taqwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran” (QS. Al Maidah : 2).

Macam-Macam Syirkah

Secara garis besar syirkah dibedakan menjadi dua yaitu :

  1. Syirkah amlak (Syirkah kepemilikan) Syirkah amlak ini terwujud karena wasiat atau kondisi lain yang menyebabkan kepemilikan suatu asset oleh dua orang atau lebih.
  2. Syirkah uqud (Syirkah kontrak atau kesepakatan), Syirkah uqud ini terjadi karena kesepakatan dua orang atau lebih kerjasama dalam syarikat modal untuk usaha, keuntungan dan kerugian ditanggung bersama. Syirkah uqud dibedakan menjadi empat macam :
    1. a. Syirkah ‘inan (harta).

Syirkah harta adalah akad kerjasama dalam bidang permodalan sehingga terkumpul sejumlah modal yang memadai untuk diniagakan supaya mendapat keuntungan.

Sabda Nabi SAW. dari Abu Hurairah ra. :

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص م قَالَ الله ُتَعَالَى:اِنَّ الله َيَقُوْلُ اَنَاثَالِثُالشَّرِيْكَيْنِ مَالمَ ْيَخُنْ اَحَدُهُمَا صَاحِبَهُ فَاِذَاخَانَهُ خَرَجْتُ مِنْ بَيْنِهِمَا  (رواه ابو داودوصححه الحاكم)

Rasulullah SAW. bersabda : Firman Allah SWT. Saya adalah pihak ketiga dari dua orang yang  berserikat selama seorang diantaranya tidak mengkhianati yang lain. Maka apabila berkhianat salah seorang diantara keduanya, saya keluar dari perserikatannya itu” (HR. Abu Daud dan Hakim menshohihkannya).

Sebagian fuqaha, terutama fuqaha Irak berpendapat bahwa syirkah dagang ini disebut juga dengan qiradl.

b.  Syirkah a’mal (serikat kerja/ syirkah ‘abdan)

Syirkah a’mal adalah suatu bentuk kerjasama dua orang atau lebih yang bergerak dalam bidang jasa atau pelayanan pekerjaan dan keuntungan dibagi menurut kesepakatan.

Contoh : CV, NP, Firma, Koperasi dan lain-lain.

c.  Syirkah Muwafadah

Syirkah Muwafadah adalah kontrak kerjasama dua orang atau lebih, dengan syarat kesamaan modal, kerja, tanggung jawab, beban hutang dan kesamaan laba yang didapat.

d. Syirkah Wujuh (Syirkah keahlian)

Syirkah wujuh adalah kontrak antara dua orang atau lebih yang memiliki reputasi baik serta ahli dalam bisnis.

2. Rukun dan Syarat Syirkah

Rukun dan syarat syirkah dapat dikemukakan sebagai berikut :

  1. Anggota yang berserikat, dengan syarat : baligh, berakal sehat, atas kehendak sendiri dan baligh, berakal sehat, atas kehendak sendiri dan mengetahui pokok-pokok perjanjian.
  2. Pokok-pokok perjanjian syaratnya :

- Modal pokok yang dioperasikan harus jelas.

- Anggaran dasar dan anggaran rumah tangga harus jelas.

- Yang disyarikat kerjakan (obyeknya) tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syari’at Islam.

c. Sighat, dengan Syarat : Akad kerjasama harus jelas sesuai dengan perjanjian.

3. Hukum dan Hikmah Syirkah

Pada prinsipnya bahwa hukum syirkah adalah mubah/boleh dan sah-sah saja. Namun

apabila terjadi penyimpangan oleh anggota syarikat, maka hal ini sudah tidak benar. Adapun

mengenai syirkah kerja menurut madzhab Syafi’i tidak sah dan tidak boleh.

Mengenai hikmah syirkah dapat dikemukakan disini sebagai berikut :

a. Dapat meningkatkan daya saing produksi, karena ada tambahan modal yang besar.

b. Dapat meningkatkan hubungan kerja sama antar kelompok sosial dan hubungan bilateral

antar negara.

c. Dapat memberi kesempatan kepada pihak yang lemah ekonominya untuk bekerjasama

dengan pihak ekonomi yang lebih kuat

d. Dapat menampung tenaga kerja, sehingga akan dapat mengurangi pengangguran.

B. JI’ALAH (SAYEMBARA)

1. Pengertian Ji’alah

Menurut bahasa Ji’alah artinya upah atau pemberian. Menurut istilah artinya upah yang diberikan kepada seseorang atas keberhasilannya dalam memenuhi keinginan pemberi upah. Contohnya : seorang yang kehilangan kuda, dia berkata : barang siapa yang mendapatkan kudaku dan dia kembalikan kuda itu, maka aku berikan upah sekian.

2. Hukum Ji’alah

Ji’alah hukumnya mubah (Boleh), dasar hukumnya bermula dari Firman Allah SWT. :

قَالُوُا نَفْقِدُصُوَاعَ الْمَلِكِ وَلِمَنْ جَاءَبِهِ حِمْلٌ بَعِيْرٍوَأَنَابِهِ زَعِيْمٌ

“Penyeru-penyeru itu berkata :”Kami kehilangan Piala Raja dan barang siapa yang dapat mengembalikannya akan memperoleh bahan makanan (seberat) beban unta, dan akan menjanjikan terhadapnya“ (QS. Yusuf : 72).

3. Rukun dan Syarat Ji’alah

a. Lafazd (akad) Ji’alah, dengan syarat :

1). Lafazd dapat dimengerti isi dan maksudnya.

2). Mengandung izin untuk melakukan apa yang diharapkan oleh pembuat lafazd.

3). Ada batas tertentu dalam melakukan sayembara.

b. Orang yang menjanjikan upah, syaratnya :

1). Orang yang punya hak memberikan sayembara.

2). Orang yang dibenarkan secara hukum menyelenggarakan sayembara.

c. Pekerjaan (sesuatun yang harus dilakukan), syaratnya :

1). Pekerjaan itu memungkinkan untuk dilakukan oleh manusia.

2). Pekerjaan itu adalah pekerjaan yang tidak mengandung unsur maksiat.

d. Upah, syaratnya diketahui terlebih dahulu sebelum pekerjaan itu dilaksanakan.

4. Hikmah Ji’alah

1). Memacu prestasi dalam suatu bidang yang disayembarakan (dilombakan) ;

2). Menumbuhkan sikap saling tolong menolong antar sesama manusia ;

3). Adanya penghargaan terhadap suatu prestasi dari pekerjaan yang dilaksanakan.

About these ads
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s